Jejak Koran

Jejak Koran
Sekadar menelusuri jejak digital koran-koran Indonesia

Galamedia Hari Ini

Koran Galamedia  diterbitkan oleh PT Galamedia Bandung Perkasa di Jawa Barat dan berkantor pusat di Kota Bandung. Surat kabar dengan moto ...

Cerpen Kompas: Mek Mencoba Menolak Memijit

Mek Mencoba Menolak Memijit
Cerpen Rizqi Turama | Kompas edisi Minggu, 10 Februari 2019


Karya Bayu Wardhana
Karena sudah tiga hari berturut-turut mendapatkan mimpi yang sama, Mek memutuskan untuk bercerita perihal mimpi tersebut pada sang suami. Tentang lelaki berpakaian putih-putih yang mengatakan bahwa Mek akan jadi tukang urut, kemudian menyentuh bahu kanan Mek. Pagi harinya, saat sang suami sudah duduk di kursi reyot, lelaki dengan tubuh ringkih itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita Mek. Menarik napas dalam-dalam. Lalu kembali menyeruput kopi.

”Bagaimana, Pak?” Mek mengejar.

”Apanya yang bagaimana?”

”Mimpiku itu, lho.”

”Ya sudah. Namanya juga mimpi.”

”Tapi sudah tiga kali, Pak.”

Suami Mek kembali menyeruput kopi.

”Pak?”

Suami Mek menghela napas panjang.

”Pak?!”

”Apa sih, Bu? Itu kan mimpi. Kenyataannya aku sudah tiga kali ditolak kerja di tempat orang. Garap lahan Pak Minto juga sudah tidak bisa lagi. Kamu malah bahas mimpi.”

Mek diam. Menatap lantai rumah.

Hingga tiga bulan lalu, suami Mek masih bisa menggarap lahan Pak Minto. Lahan itu sebelumnya hanya lahan mati dengan rumput ilalang setinggi orang dewasa. Setelah Mek dan suaminya datang sebagai keluarga jauh yang merantau, Pak Minto mengizinkan keduanya untuk memanfaatkan lahan itu untuk cocok tanam. Daripada jadi lahan tak terurus, begitu kata Pak Minto.

Dari lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas itu, Mek dan suami mengerahkan semua kemampuan. Mereka berhasil menanam beberapa tanaman. Hasilnya, sebagian dimakan sendiri dan sebagian lain bisa dibawa ke pasar untuk dijual. Tentu saja tidak banyak, tapi cukup. Cukup untuk makan mereka dan anak-anak yang kemudian lahir tiga kali beruntun. Pendek kata, cukup untuk hidup tidak mewah.

Tentu saja, selama kurang lebih dua belas tahun di sela-sela hidup hemat mereka, Mek dan suami masih menyisihkan uang untuk menabung. Hanya saja sering kali tabungan itu harus terpakai untuk kehidupan sehari-hari dan keperluan lain. Bahkan, tak jarang, mereka justru harus berutang ke Pak Minto atau yang lain untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak, seperti biaya melahirkan. Namun, sekuat apa pun mereka menabung, tabungan itu tak cukup untuk mempersiapkan jika suatu waktu lahan itu tak bisa lagi digarap. Dan itulah yang terjadi.

Saat mereka sedang senang-senangnya karena tampaknya panen akan cukup berlimpah tahun ini, Pak Minto datang mengetuk pintu rumah kontrakan mereka yang berada sekitar tiga kilometer dari lahan garapan. Mek dan suami sama sekali tak menyangka bahwa setelah senyum, salam, dan ramah-tamah yang menyenangkan, Pak Minto menyampaikan,

”Lahan itu sudah dijual. Ada orang yang mau membangun minimarket waralaba di sana. Kabarnya satu atau dua bulan lagi pembangunan akan dimulai.”

Kalimatnya tidak persis seperti itu karena disampaikan dengan berbelit-belit dan sangat hati-hati agar tidak melukai siapa pun. Hanya saja, sehalus apa pun penyampaiannya, memang kenyataan itu pahit dan tidak ada manis-manisnya.

Panen yang sudah dibayangkan oleh Mek dan suami seketika harus menguap. Sebelum pulang, Pak Minto memberikan sebuah amplop yang berisi uang. Pak Minto sudah menyampaikan soal tanaman yang akan segera panen dan pemilik tanah yang baru setuju untuk membayar ganti rugi. Setelah dihitung, Mek dan suami memang benar-benar rugi.

Setelah Pak Minto pulang, ada tiga puluh menit yang habis di dalam keheningan yang pekat. Baik Mek maupun suami tak bersuara. Meskipun begitu, ada kericuhan dan kegaduhan dalam benak masing-masing. Kericuhan yang begitu rumit dan sangat sulit untuk disalurkan sampai tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya.

”Bagaimana, Pak?” ucap Mek setelah tiga puluh menit dalam kerapuhan yang memutusasakan.

”Ya mau bagaimana lagi. Kita cari penghasilan lain, Bu.”

Tapi rupanya mencari sumber penghasilan lain bagi kedua orang itu tidaklah mudah. Tangan mereka telah terbiasa mencangkul, memupuk, dan menyiangi. Sementara lahan semakin sempit dan kebun orang lain sudah punya penggarapnya sendiri.

Sebenarnya Mek dan suami takjub juga dengan perkembangan minimarket waralaba. Bisa-bisanya ia menjangkau titik di kampung yang letaknya ratusan kilometer dari kota provinsi. Apalagi, sebulan dari sana, dijual pula tanah di samping lahan garapan mereka yang selama ini aktif ditanami padi untuk kepentingan pembangunan minimarket waralaba pesaing.

Mek tahu persis bahwa petak kecil sawah itu digarap oleh tetangganya. Karena merasa senasib, didatanginyalah tetangga itu dan menanyakan apa yang akan mereka lakukan untuk menyambung hidup setelah tanah itu dijual. Jawaban mereka adalah, ”Merantau ke kota. Cari kerja di sana. Di sini sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan.”

Langkah itu akhirnya dilakukan juga oleh Mek, suami, dan anak-anak mereka. Berbekal uang ganti rugi dari pemilik baru lahan garapan ditambahi dengan sedikit tabungan mereka, kelima anak-beranak itu nekat pergi ke kota provinsi. Mencari kerja apa saja.

Di kota mereka mengontrak petak kecil di sudut gang kumuh. Tak perlu deskripsi mendetail soal kondisi rumah kontrakan baru mereka. Anda tentu pernah membaca di berbagai cerpen dan novel mengenai jenis-jenis rumah di tempat seperti itu. Atau, paling tidak, pernah melihatnya di sinetron dan acara televisi yang mengeksploitasi kemiskinan. Kurang lebih, seperti itulah kondisi kontrakan mereka yang terbaru.

Kelanjutannya, seperti yang sudah diketahui, suami Mek ditolak bekerja di tiga tempat yang berbeda. Mek sendiri mengalami mimpi yang sama tiga kali berturut-turut. Di hari-hari berikutnya, Mek juga memimpikan hal yang sama.

Ia selalu menolak. Tidak mau menjadi tukang urut. Ia lebih memilih menjadi buruh cuci harian ketimbang menjadi tukang urut. Sekarang, selagi menunggu suaminya mendapatkan pekerjaan, ia sudah menjadi buruh cuci di tiga rumah berbeda. Baginya itu lebih berwibawa. Namun, semakin ia menolak, ia justru merasa bahu kanannya—bagian yang disentuh oleh lelaki dalam mimpi—terasa semakin sakit.

Berita baik muncul seminggu kemudian. Suaminya diterima untuk jadi buruh bangunan dalam sebuah proyek pembangunan jembatan layang. Dua sejoli itu bisa tersenyum sedikit lega. Menjadi buruh bangunan dan buruh cuci di kota tentu lebih baik ketimbang tidak mengerjakan apa pun di desa.

Kecuali mimpi yang terus sama setiap hari dan bahu kanan yang semakin hari semakin sakit, tidak ada problem berarti di rumah tangga mereka. Sampai akhirnya, seorang wanita muda dengan riasan yang sederhana namun memancarkan pesona sesungguhnya, datang mengetuk pintu kontrakan mereka.

”Aku datang ke sini karena mimpi yang berkali-kali,” ujarnya. Mek dan suami terpana. Belum selesai keterkejutan keduanya, wanita itu melanjutkan, ”Bahuku sakit sekali. Aku perlu tukang pijit.”

”Tidak ada yang bisa memijit di rumah ini. Anda mungkin salah alamat,” tukas suami Mek.

Perempuan itu menggeleng. Keras dan penuh keyakinan. ”Mek namamu, bukan? Marsini nama asli? Kau yang disebut oleh lelaki di mimpiku sebagai satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan sakit di bahuku. Tolonglah aku.”

Demi mendengar nama aslinya disebut, Mek terperanjat. Mungkin dirinya sendiri sudah lupa dengan nama asli yang tak pernah diucapkan itu. Sementara itu, sang suami teringat dengan mimpi yang pernah diceritakan istrinya.

”Tolonglah. Aku akan bayar lebih mahal ketimbang rumah spa langgananku. Sembuhkanlah bahuku, Mek,” wanita itu bertutur lancar.

”Masalahnya, aku tak bisa memijit dan benar-benar tidak pernah.”

”Cobalah dulu, Mek. Kumohon.”

Mek diam. Menoleh pada suaminya yang kemudian mengangkat kedua bahu dan berjalan keluar rumah. Di dalam, wanita muda itu mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah. Memberikannya pada Mek.

”Ambil uang ini, Mek. Sebagai uang muka. Kalau benar bahuku sehat setelah kau pijit, akan kutambahi lagi. Kalau tidak, ambil saja uang ini sebagai rasa terima kasihku karena setidaknya kau telah mencoba. Aku sungguh tak tahan. Sungguh. Bahu ini sudah sakit lebih dari sebulan.”

Mek menarik napas panjang. Dipersilakannya sang wanita untuk rebah di satu-satunya kasur tipis yang ada di rumah. Wanita itu mengerti dan membuka baju kemeja yang ia kenakan dengan kesulitan karena bahu kanannya tak bisa bergerak dengan leluasa.

Tangan Mek menyentuh bahu itu dan dengan cara yang sulit dijelaskan, ia bisa merasa bahwa ada satu urat kecil yang tidak berada pada tempatnya. Urat itulah yang membuat wanita di depannya merasa sakit. Saat Mek mencoba ”meluruskan” urat itu, ia merasa sakit di bahunya sendiri juga ikut terobati. Mek benar-benar terpana dengan perasaan yang baru ia alami ini.

Rupanya, wanita muda yang dipijit Mek juga merasakan keajaiban itu. Ia berjanji akan mempromosikan kemampuan Mek pada semua orang yang dikenalnya. Juga meyakinkan Mek bahwa Mek akan bisa hidup jauh lebih layak dengan kemampuannya memijit. Mek tersenyum.

Dan mungkin karena memang sifatnya yang supel, ia mulai menceritakan detail mimpinya pada Mek. Dua wanita berbeda usia itu sepakat bahwa mereka telah didatangi oleh orang yang sama. Sama-sama tak jelas siapa. Obrolan mereka jadi cair setelah menceritakan mimpi aneh tersebut.

Mek sudah merasa bahwa tak lama lagi urat yang tadi salah tempat akan segera ada di posisinya semula, saat sang wanita muda bercerita dengan lancar bahwa ia adalah istri seorang pebisnis muda yang sukses. Suaminya baru saja membangun sebuah minimarket waralaba di salah satu pelosok kampung di provinsi itu, sebuah ekspansi.

”Suamiku mengalami negosiasi yang cukup panjang dengan Pak Minto, pemilik tanah, karena ia memikirkan nasib penggarap lahannya. Tapi berkat harga yang pas, Pak Minto pun rela melepas tanahnya. Tanah yang benar-benar strategis.”

Tinggal satu usapan jempol lagi, Mek yakin, dan urat yang salah tempat itu akan benar-benar kembali ke tempatnya. Namun, demi mendengar ucapan terakhir sang wanita muda, Mek merasa dirinya harus menolak untuk memijit. []

Rizqi Turama, dosen di Universitas Sriwijaya. Pernah mengikuti Kelas Cerpen Kompas yang dipandu oleh Putu Fajar Arcana dan Joko Pinurbo, November 2016 di Borobudur Writer and Cultural Festival. Aktif di Sanggar EKS dan Komunitas Kota Kata Palembang. Buku terbarunya berjudul Teriakan dalam Bungkam.

Bayu Wardhana, lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia Yogyakarta, tapi lebih dikenal sebagai perupa impresionis. Tinggal di Yogyakarta.

Sumber: https://kompas.id/baca/utama/2019/02/10/mek-mencoba-menolak-memijit/

Cerpen Kompas: Minuman buat Para Penyair

Minuman buat Para Penyair
Cerpen Gunawan Maryanto | Kompas edisi Minggu, 3 Februari 2019


Karya: Prajna Deviandra Wirata
Sederhananya, manusia terdiri dari 3 jenis: penyair baik, penyair buruk, dan bukan penyair. Dan ini semua memang bermula ketika dunia masih begitu sederhana. Ketika dua elang raksasa saling berkejaran di langit yang masih begitu muda.

Perang besar antardewa baru saja selesai atau mesti diselesaikan. Jika tidak perang, itu tak akan selesai dan Anda tak akan bisa membaca cerita ini, hari ini. Kaum Aesir, rombongan dewa- dewa yang galak, keras kepala, dan suka berperang, melawan para Vanir, dewa-dewa yang lembut hati, senang bersahabat, penyubur tanah dan tanaman.

Aesir biasanya dengan mudah—kadang juga tidak mudah—mengalahkan lawan-lawannya: para raksasa, serigala, naga, juga dewa-dewa lain. Tapi, tidak kali ini. Berhadapan dengan dewa pujaan para petani dan pencinta lingkungan, mereka akhirnya memilih berdamai. Bukan karena mereka tidak suka berperang lagi. Tapi, mereka butuh kemenangan. Atau kekalahan.

Perang tanpa kemenangan atau kekalahan seperti malam panjang yang tak berkesudahan. Malam panjang tanpa bulan—karena bulannya sudah dimakan serigala Fenrir—yang jika terus ditempuh hanya akan mengantarkan mereka kepada Hel. Neraka bagi mereka yang mati biasa-biasa saja.

Mereka tentu tak bisa membayangkan betapa membosankannya menemani Hel di dalam purinya yang gelap. Menemani putri Kegelapan itu makan malam menghabiskan makanan dalam mangkuk Kelaparan yang tak bakal bisa habis.

Vanir ternyata tak bisa dikalahkan, juga tak bisa mengalahkan mereka. Jadi, para Aesir memilih untuk berdamai. Dan kemudian mencari musuh lainnya—jalan yang akan membawa mereka menuju Valhalla, surga bagi para pejuang. Surga yang akan membuat mereka kembali bertarung dari hari ke hari. Bukan makan malam abadi bersama Hel.

Perdamaian itu diwujudkan dengan mengumpulkan ludah seluruh dewa yang bertarung dalam sebuah guci. Lalu mereka menggelar pesta besar. Thor, dewa petir dari Aesir, membawa ketel raksasa untuk membuat bir. Ketel itu dulu didapatkannya dari raksasa Hymir lewat sebuah perjuangan antara hidup dan mati tentu saja. Lain kali saja ceritanya. Sekarang mereka tengah berpesta dan bertarung lagi karena mabuk. Beberapa tanpa sengaja mati tertusuk pedang dan pergi ke Valhalla. Tapi, ada juga yang ke Hel karena mati tersedak makanan atau kebanyakan minum lalu jatuh ke jurang.

Di ujung pagi sebelum mereka bubar dan kembali ke kahyangan masing-masing, Odin, sang Maha Bapa, dewa para dewa, dewa yang pernah menggantung dirinya di pohon Kehidupan, meniupkan api kehidupan ke dalam guci yang penuh ludah Aesir dan Vanir. Maka terjadilah yang harus terjadi, sesosok dewa tampan keluar dari dalam guci. Dialah Kvasir, dewa setengah Aesir setengah Vanir, lambang dari perdamaian mereka. Di kemudian hari, orang-orang akan mengenangnya sebagai dewa Penyair, dewa perpaduan antara kepala dan hati—kepala Aesir dan hati Vanir.

Para dewa berkerumun untuk mendengarkan kata-kata indah yang muncul dari mulut Kvasir. Tak pernah sebelumnya mereka mendengar puisi-puisi yang indah seindah puisi Kvasir.

Odin tersenyum karena mendapat hadiah sebuah puisi panjang yang menyebut seluruh namanya. Freya menangis mendengar puisi-puisi cinta tak berbalas. Bulu kuduk Thor meremang mendengar Kvasir mendendangkan balada kepahlawanan. Tapi, para dewa mesti kecewa karena Kvasir akan pergi. Ia memutuskan tak akan tinggal bersama mereka.

”Aku akan berkelana ke sembilan dunia. Aku ingin melihat segalanya. Dan menuliskannya. Aku akan sesekali kembali dan membacakan puisi-puisiku. Tapi, begitulah. Aku tak punya rumah. Rumahku seluruh dunia.”

Para dewa melepas kepergian Kvasir. Sebuah puisi perpisahan tercipta. Puisi terindah yang pernah ada.

Demikian Kvasir mengembara ke banyak dunia dan membuat ribuan puisi dari sana. Puisi-puisi itu pun mengembara lebih jauh, lebih luas lagi dari Kvasir. Kehadirannya selalu ditunggu oleh semua penghuni dunia. Juga oleh kematian.

Odin cemas. Kvasir sudah lama tak mampir dan membacakan puisi-puisinya. Semenjak Kvasir hadir di dunia, semua dewa keranjingan puisi. Bahkan, Loki yang tak punya hati pun mencoba menulis puisi untuk para perempuan yang digandrunginya. Tapi, tetap saja tak ada yang bisa menulis seindah dan sedalam Kvasir. Maka ketika berbulan-bulan Kvasir tak mampir ke Asgard, Odin jadi gelisah.

Maka, ia pun pergi mencari jawab. Mengenakan jubah pengembara dan topi besarnya, Odin menelusuri setiap jalan yang mungkin ditempuh Kvasir. Ia ditemani sepasang burung gagaknya, Huggin dan Munnin—si Pikiran dan si Kenangan. Mereka bertengger di setiap bahu Odin. Dari keduanyalah Odin dengan cepat menemukan sepasang kurcaci jahat, kakak-beradik Fjalar dan Galar.

Di sebuah puri di tepi laut yang sekaligus adalah bengkel kerja, Fjalar dan Galar menerima kedatangan Odin. Fjalar dan Galar tak bisa mengelak bahwa di puri itulah terakhir kali Kvasir menampakkan dirinya. Tapi, sepasang kurcaci jahat yang mahir membuat minuman fermentasi dari buah apa pun itu tak mengakui perbuatan mereka yang sesungguhnya.

Mereka hanya bilang bahwa Kvasir telah mati—karena kebanyakan minum fermentasi buah berry dan terlalu sedih mendengar puisi buruk Fjalar dan Galar—dan mereka melarungnya ke laut. Odin tak percaya begitu saja. Kedua kurcaci buruk ini pasti telah mengarang cerita untuk menutupi kejahatan mereka. Satu-satunya yang ia percaya adalah Kvasir telah mati.

Tapi, Odin memutuskan untuk pulang ke Asgard. Kedua kurcaci itu bernapas lega. Mereka mengira Odin telah berhasil mereka kibuli. Mereka lupa bahwa Odin telah merelakan sebelah matanya di sumur Mimir demi bisa minum seteguk air dari sumur pengetahuan itu. Seteguk saja dan ia menjadi tahu segalanya meski hanya dengan satu mata yang tersisa. Odin memang melangkah pulang. Tapi, tidak dengan sepasang gagaknya. Huggin dan Munnin bertengger di sebatang pohon tak jauh dari puri Flajar dan Galar.

Di Asgard, dengan sedih Odin mengabarkan kematian Kvasir. ”Tapi, Kvasir tak akan mati sia-sia. Puisi-puisi terbaik akan terus lahir dan dituliskan hingga Ragnarok tiba.” Ia mengangkat gelasnya diikuti oleh dewa-dewa lain. ”Untuk Kvasir dan puisi-puisinya!”

”Untuk Kvasir dan puisi-puisinya!”

Sementara para dewa mabuk dalam perayaan kematian Kvasir, Odin menyelinap ke dalam kamarnya. Ia menangis dalam diam. Menangis dengan satu mata. Kematian Kvasir adalah puisi tanpa kata yang begitu menyakitkan seperti lembing yang pernah tertancap di pinggangnya dulu ketika puisi-puisi belum lahir. Ia tak tahu bahwa di tempat yang gelap, di tepi sumur Mimir di mana para raksasa berkuasa, bola matanya juga bergetar dan berair. Duka Odin tampaknya telah menempuh perjalanan yang jauh.

Sebulan telah lewat saat Huggin dan Munnin akhirnya kembali ke bahu Odin. Lalu bergantian mereka berbisik di telinga kanan dan kiri Odin, menyampaikan hasil pengintaian mereka. Cerita mereka saling sambung dan saling melengkapi satu sama lain seolah diciptakan oleh seorang pengarang ulung.

Beginilah cerita mereka:

Fjalar dan Galar sengaja mengundang Kvasir ke rumah mereka begitu tahu sang Dewa Penyair itu tengah berkunjung ke kota mereka. Sebagai penyair yang waskita, Kvasir tahu kematian tengah menjemputnya. Karena itu, ia diam saja saat Fjalar dan Galar mengikat dan menyeretnya ke dapur. Bahkan, ia masih sempat menciptakan puisi tentang kematiannya sendiri saat Galar menyembelihnya pelan-pelan, sementara Fjalar menadah darah sang Penyair dengan baskom. Kedua kurcaci itu kemudian menggantung kedua kaki Kvasir ke atas untuk menyadap darahnya hingga tetes yang terakhir. Selanjutnya mereka membuang mayat Kvasir ke laut—mereka tak berbohong tentang itu.

Di dapur, darah Kvasir ditampung ke dalam 2 panci besar bernama Son dan Bodn. Selanjutnya di periuk Odrerir, mereka mencampur darah itu dengan air dan madu, mengaduk dan memasaknya hingga menggelegak. Setelah gelegak hilang, mereka memasukkan ragi dan buah berry yang telah dipotong-potong kecil.

Setelah proses memasak selesai, mereka menuang ramuan itu kembali ke dalam kedua panci besar dan menutupnya rapat-rapat. Sebulan kemudian, kedua kurcaci itu mencicipi minuman fermentasi ramuan mereka. Masing-masing sesendok makan. Tak lama, Fjalar dan Galar sudah menciptakan masing-masing sebait puisi. Puisi yang telah lama ingin mereka ciptakan, tetapi tak kunjung bisa. Puisi dari dalam hati yang telah terpendam sekian lama.

Demikianlah. Setiap kali ingin membuat syair, mereka minum fermentasi darah Kvasir. Tapi, kedua kurcaci ini selain licik dan jahat, juga dikenal sebagai kurcaci yang pelit. Mereka tak mau membagi minuman ajaib mereka ini kepada banyak orang. Mereka tak ingin puisi-puisi indah mereka tersaingi.

Hanya dengan sahabat-sahabat dekatnya di mana mereka pernah berutang nyawa mereka mau berbagi. Salah satunya adalah raksasa bernama Gilling. Suatu kali, Gilling dan istrinya datang berkunjung. Fjalar dan Galar menyambutnya dan membiarkan mereka mencicipi minuman itu sehabis makan siang. Adu pantun pun terjadi tak lama kemudian. Gilling dan istrinya banyak menciptakan pantun jenaka yang membuat siang itu terasa begitu menggembirakan.

Sorenya, Flajar dan Galar mengajak sepasang suami istri itu memancing ke tengah laut. Mereka pun segera berangkat naik perahu. Flajar dan Galar yang mengayuh. Tapi, lantaran berat Gilling dan istrinya yang berlebih, perahu itu pun pelan- pelan tenggelam. Flajar akhirnya mendorong Gilling, sementara Galar mendorong istrinya ke laut sebelum perahu itu benar-benar tenggelam. Mereka selamat, tapi tidak dengan sepasang raksasa itu.

Sepasang kurcaci itu pun menutup hari dengan sebuah puisi panjang yang menceritakan kematian raksasa Gilling dan istrinya. Puisi tragedi yang indah itu pun segera tersiar ke seluruh penjuru dibawa oleh para pejalan, pedagang, pengembara, dan aktor-aktor keliling. Hingga pada suatu hari sampailah puisi itu di telinga Suttung, anak raksasa Gilling. Suttung dan Baugi, adiknya, segera menuju rumah Flajar dan Galar untuk menuntut balas.

Tidak susah untuk meringkus sepasang kurcaci jahat, apalagi bagi raksasa seperti Suttung dan Baugi. Mereka membawa kurcaci tawanan mereka itu ke tengah laut. Suttung hendak menenggelamkan para pembunuh itu sebagaimana mereka dulu menenggelamkan kedua orangtuanya. Flajar dan Galar menangis sepanjang perjalanan.

Keduanya berusaha membujuk Suttung dan Baugi untuk mengampuni mereka. Mereka menjanjikan harta benda yang tak ternilai harganya. Suttung dan Baugi tertawa. Mereka tak butuh harta benda. Kekayaan mereka berlimpah dan tak kurang suatu apa. Flajar dan Galar tidak menyerah, mereka terus berusaha membujuk hingga akhirnya menawarkan minuman fermentasi Kvasir. Suttung dan Baugi saling pandang. Mereka tidak segera mengiyakan. Mereka hanya saling pandang sambil terus mengayuh perahu mereka ke tengah lautan.

Sampai di sini cerita Gunnin dan Munnin berhenti.

”Lalu di mana minuman fermentasi Kvasir itu sekarang?”

Sepasang gagak itu menggeleng. ”Bisa di mana saja,” kata mereka. ”Di titik ini, kami kehilangan lacak. Mungkin masih di tangan Suttung dan Baugin. Tapi, kami dengar Suttung dan Bagui tak akur lagi. Ada yang bilang minuman itu dikuasai oleh seorang raksasa perempuan bernama Gunnlod. Dia anak dari Gilling. Dia tinggal di Gunung Hnitbjorg. Tapi, di luar sudah banyak beredar minuman fermentasi Kvasir tiruan. Siapa yang meminumnya juga akan mabuk dan mencipta puisi. Tapi, puisi-puisi yang buruk. Kita bisa melacak keberadaan minuman dari darah Kvasir itu melalui penyair-penyair yang baik.”

Odin segera mengenakan jubah dan topi besar penyamarannya. ”Kita menuju Gunung Hnitbjorg!”

Cerita tak berakhir di sini. Perebutan atas minuman fermentasi Kvasir terus berlanjut. Bahkan sebagian orang percaya minuman itu masih ada hingga hari ini. Tersimpan di tempat-tempat yang rahasia dan hanya dimiliki oleh para penyair pilihan. Sebagaimana Flajar dan Galar, mereka tentu tak ingin membagi minuman ajaib itu. Apalagi untuk seorang penulis rendahan semacam saya. Tapi, malam ini, saya ingin bertamu ke rumah seorang penyair kawakan yang puisi-puisinya saya kagumi. Saya membawa sebilah pisau untuk berjaga-jaga. []

Catatan: Diolah dari mitologi-mitologi Nordik.

Gunawan Maryanto, lahir 10 April 1976 di Yogyakarta. Ia salah satu aktor dan sutradara di Teater Garasi Yogyakarta. Buku kumpulan cerpennya, Bon Suwung 2005, Galigi (2007), Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (2008), serta Usaha Menjadi Sakti (2009).

Prajna Deviandra Wirata, lahir di Bali dan menempuh pendidikan seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), lulus dengan predikat cum laude. Tahun 2019, Prajna mengikuti pameran ”1st International Watercolour Festival Myanmar 2019”.

Sumber: https://kompas.id/baca/utama/2019/02/03/minuman-buat-para-penyair/

Pikiran Rakyat Edisi Rabu, 28 November 2018

Ribuan Bobotoh Sambut Maung Ngora -- Hujan deras yang mengguyur Kota Bandung sejak siang tidak menyurutkan ribuan bobotoh untuk menyambut langsung kedatangan rombongan tim Persib U-19 yang baru saja meraih gelar juara Liga 1 U-19. Di final, Persib U-19 mengalahkan rival abadinya, Persija, 1-0, pada pertandingan di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Senin 26 November 2018 malam. Sejak Selasa 27 November 2018 pukul 13.00, ribuan bobotoh telah memadati Jalan Pajajaran yang menjadi titik pertemuan saat Persib keluar dari Bandara Husein Sastranegara. Untuk mengatur kelancaran lalu lintas, kepolisian mengatur arus lalu lintas baik masuk maupun keluar dari bandara. Begitu tiba di Kota Bandung, Beckham Putra Nugraha langsung disambut ratusan bobotoh yang telah menunggu di sekitar bandara. Rombongan Persib U-19 pun langsung menuju bus Bandros (Bandung Tour On The Bus) yang telah disiapkan. | Sumber: www.pikiran-rakyat.comepaper.pikiran-rakyat.com


Pikiran Rakyat edisi Rabu, 28 November 2018:

Media Indonesia Edisi Senin, 19 November 2018

Kapal Selam Ditemukan setelah Setahun Hilang -- Setahun menghilang di dasar Samudra Atlantik, bangkai kapal selam Argentina dapat ditemukan. Sebanyak 44 awak kapal tewas, dan insiden itu menjadi tragedi terburuk dalam beberapa puluh tahun terakhir. Tim ahli yang mencari keberadaan kapal selam bernama ARA San Juan itu menyatakan membutuhkan dana sekitar US$1 miliar untuk mengangkat bangkai kapal ke permukaan. Menteri Pertahanan Argentina, Oscar Aguad, membenarkan nilai anggaran yang dikeluarkan untuk mencari kapal nahas itu. Tim pencari menemukan reruntuhan kapal di kedalaman lebih dari 800 meter atau sekitar 2.600 kaki. Angkatan Laut (AL) Argentina mengonfirmasi kapal selam tersebut telah meledak sebelumnya. Keluarga dan rekan korban terlihat saling berpelukan dan memegang kepala mereka seraya menitikkan air mata saat mengetahui kabar ditemukannya ARA San Juan. Tenggelamnya kapal selam itu membawa pergi sejumlah perwira tinggi AL Argentina selamanya. Misteri hilangnya ARA San Juan terkuak setelah The Seabed Constructor, yakni kapal pencarian milik perusahaan asal Amerika Serikat (AS) berhasil menemukan lokasi kapal selam tersebut. Kabar itu diperoleh tepat sehari setelah peringatan satu tahun menghilangnya ARA San Juan. The Seabed Constructor mulai menggencarkan operasi pencarian sejak September lalu. Sebagai informasi, AL Argentina mulai hilang kontak dengan kapal selam tersebut pada 15 November 2017 dengan posisi terakhir sekitar 450 kilometer dari tepi pantai. Saat itu, ARA San Juan sedang menjalan kan misi perjalanan ke ujung selatan Argentina. | Sumber: mediaindonesia.comepaper.mediaindonesia.com


Media Indonesia edisi Senin, 19 November 2018:

Media Indonesia Edisi Minggu, 18 November 2018

CIA Simpulkan Muhammad bin Salman Terlibat -- Badan Intelijen Pusat (CIA) Amerika Serikat menyimpulkan adanya keterlibatan Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, dalam kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Hal itu dilaporkan media lokal AS dengan mengutip sumber yang dekat dengan penelusuran tersebut. Penilaian itu bertentangan dengan kesimpulan Kejaksaan Arab Saudi yang membebaskan Putra Mahkota. Akan tetapi, Washington Post yang gencar menyoroti kasus tersebut mengungkapkan CIA menemukan bukti bahwa 15 agen yang diterbangkan dari Arab Saudi masuk ke Turki menggunakan pesawat pemerintah. Saat dimintai konfirrmasi AFP, CIA enggan berkomentar. Seperti diketahui, Khashoggi, kolumnis Washington Post, tewas di dalam gedung Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki, saat mengurus dokumen pernikahannya. Di lain pihak, Arab Saudi yang dengan cepat menepis segala temuan CIA secara berulang kali telah mengubah narasi resmi mengenai kasus pembunuhan yang terjadi pada 2 Oktober 2018 itu. | Sumber: mediaindonesia.comepaper.mediaindonesia.com

Media Indonesia edisi Minggu, 18 November 2018:

Media Indonesia Edisi Sabtu, 17 November 2018

Tekad Skuat Garuda Menjaga Asa -- Perjuangan berat akan dilakoni tim nasional Indonesia dalam lanjutan penyisihan Grup B Piala AFF 2018. Mereka menghadapi tuan rumah Thailand di Stadion Rajamanggala, Bangkok, hari ini. Meski begitu, para punggawa tim ‘Merah Putih’ sudah siap secara mental. Mereka bahkan siap menghadapi teror dari para suporter tuan rumah. “Kami sudah siap untuk menjalani pertandingan. Secara tim kami sudah siap. Kami hanya mohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia,” cetus gelandang Evan Dimas Darmono dalam jumpa pers di media center Stadion Rajamanggala, Bangkok, kemarin (16/11). Salah satu pemain Thailand yang paling diwaspadai ialah Adisak Kraisorn. Di partai pembuka kontra Timor Leste pada Jumat (9/11), Kraisorn sukses mencatatkan setengah lusin gol. Torehan terbaik penyerang 27 tahun itu selama berseragam pasukan the War Elephants, julukan Thailand. Pelatih Indonesia Bima Sakti Tukiman menyebut akan memberikan penjagaan berlapis kepada Kraisorn. “Saya sudah berdiskusi dengan pemain bertahan bahwa dia (Kraisorn) sangat berbahaya untuk kami. Jadi komunikasi di dalam lapangan harus bagus untuk menghentikan dia,” kata Bima Sakti.| Sumber: mediaindonesia.comepaper.mediaindonesia.com


Media Indonesia edisi Sabtu, 17 November 2018:

Media Indonesia | Jumat, 16 November 2018

Tuntaskan Kasus Century -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memastikan proses hukum terhadap kasus Bank Century masih terus berjalan. Indikasinya, sejumlah pihak terus dipanggil untuk dimintai keterangan. Mantan Wakil Presiden Boediono dan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Agus Sarwono, misalnya, memenuhi panggilan KPK, kemarin. Sebelumnya, KPK juga telah memeriksa mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda Goeltom dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. | Soekarno-Hatta 10 Besar Terbaik -- PT Angkasa Pura (AP) II mengapresiasi hasil riset data penerbangan OAG, yang menempatkan Bandara Soekarno-Hatta di posisi 10 pada Megahubs International Index 2018. Namun, operator bandara internasional tersibuk di Indonesia itu belum puas dan bertekad meraih posisi lebih baik tahun depan. Dalam laporan soal Megahubs International Index 2018, Bandara Soekarno-Hatta memperoleh indeks konektivitas 249 poin. Angka itu mengalahkan Kuala Lumpur International Airport di posisi ke-12 dan bahkan Incheon International Airport di peringkat ke-15. Daftar itu merupakan urutan terbaik soal koneksi internasional terjadwal yang dilayani. | Sumber: mediaindonesia.comepaper.mediaindonesia.com


Media Indonesia edisi Jumat, 16 November 2018: